Kamis, 04 September 2008

SENANDUNG ADINDA



SENANDUNG ADINDA:

ELEGI DUKA LARA SANG DARA


Resti Nurfaidah

Menyaksikan monolog “Senandung Adinda” yang menjadi bagian kemeriahan dalam Festival Sunan Ambu III/2008 seakan menyaksikan potret kehidupan seorang wanita yang “tidak beruntung” baik dalam menjalani kehidupan pribadinya maupun. “Senandung Adinda” menyajikan senandung elegi yang sangat dalam atas lika-liku derita seorang dara, dara yang terjerembab ke dalam kesepian dan kesempitan.

Nuansa kesepian sangat terasa selama dalam pementasan monolog tersebut, terlebih dengan penggunaan ornamen dan kostum yang serbagelap. Monolog tersebut dibuka dengan senandung pendek monoton yang terlontar beberapa kali dari mulut sang aktris, Patricia Sabattani. Setelah itu dimulailah perjalanan hidupnya dalam labirin derita.

Perjalanan hidup sang dara merupakan cerminan perjalanan hidup perempuan-perempuan Indonesia malang yang kerap berakhir di dunia kelam. Monolog ini cenderung mengingatkan penulis pada peristiwa trafficking atau nasib TKW terlantar yang semula dijanjikan dengan impian yang setinggi langit tetapi berakhir dalam genggaman sang penguasa “dunia malam”. Demikian pula halnya, dalam monolog tersebut sang dara tergiur untuk mewujudkan impiannya berkiprah di kawasan urban, diungkapkan dengan tayangan latar multimedia refleksi wajah perkotaan pada malam hari.

Namun, rupanya impian indah yang telah melekat di benak sang dara terpaksa harus disingkirkan jauh-jauh. Impian indah itu berubah menjadi sosok mahkluk menakutkan yang telah menjerumuskan dirinya ke dalam labirin derita urban.


Sang dara mengalami pelecehan seksual hebat, didukung latar animasi yang mengungkapkan semiotika peristiwa perkosaan dan gerakan radikal sang aktris. Sisi kelam dunia urban tersebut telah menyebabkan sang dara mengalami depresi akut. Hal itu ia ungkapkan dengan beberapa gerakan radikal berikut, seperti mengacak-acak lingkaran taburan bunga (yang menggambarkan simbol indah dan harumnya angan-angan dan impian sang dara), isak tangis dramatis dan menyayat hati, serta menghancurkan bantal.


Derita sang dara rupanya tidak berakhir pada peristiwa perkosaan itu. Ia tidak dapat melarikan diri dari akibat peristiwa buruk yang ia alami itu. Sang dara akhirnya melarikan diri pada jalan keluar yang ‘gelap’, menjadi seorang pekerja seksual komersial (PSK), latar pada layar menunjukkan situasi di sebuah lokalisasi. Kehidupan sebagai seorang wanita penghibur tidak dapat mengobati luka-luka duka yang terlanjur terkoyak di dalam sukmanya, sebaliknya hal itu semakin membuatnya menderita. Sang dara, entah karena penyakit atau penderitaan batin, hanya mampu bertahan dalam waktu singkat. Kematian pun menjadi obat mujarab atas sederetan luka-luka duka yang terlanjur menggores pada dirinya.


Monolog “Senandung Adinda” merupakan buah karya Rachman Sabur yang sekaligus bertindak sebagai sutradara pementasan ini. Dalam pertunjukkan tersebut, Rahman Sabur dibantu oleh Patricia Sabattani (pemain), Deden Bulqini (penata artistik), Lili Wiyana (penata musik), Eri Kribow (multimedia), Didit Radite (penata cahaya), dan Ade II Syaraifudin (stage manager).


1 komentar:

lili wiliana mengatakan...

thanks banged uda mo publikasikan senandung adinda,

pi ada koreksi dikid ya... untuk pemusik namanya bukan lili wiyana, tapi lili wiliana
hatur nuhun...